Nina, Isteri yang Baik

Ini cerita beberapa waktu yang lalu saat aku berkunjung ke Bandung selama beberapa hari. Aku menginap di suatu hotel yang asri dengan interior yang cukup artistik di lingkungan yang tak terlalu ramai dengan udara yang sejuk.

Seperti biasa, ritual yang selalu kulakukan tiap bertandang ke hotel adalah mencoba spa-nya.

Pagi itu aku membooking Nina. Aku sudah mengamati gadis ini sejak beberapa hari sebelumnya. Orangnya mungil, manis dan ramah.

Di kamar terapi sudah disediakan seragam batik untuk pengunjung di atas ranjang. Seperti biasa, aku singkirkan saja seragam lucu itu dan langsung melepas semua pakaianku. Aku ingin Nina langsung melihatku bugil.

Saat dipijat tengkurap, aku biasanya tak banyak omong. Ini saat-saat menikmati pijatan dari si terapis. Pijatan Nina ternyata lumayan enak walaupun tidak luar biasa. Masih kalah sama pijatan terapis Bersih Sehat (Emang BS sering jadi barometerku kalau menilai enak tidaknya pijatan).

Saat selesai bagian belakang dan membalikkan badan, barulah aku mengajak Nina berbincang-bincang. Pertama-tama tentu saja kupuji pijatannya yang enak. Lalu pembicaraan pun mengalir. Kukorek sebanyak mungkin cerita tentang dirinya. Aku memang senang mengetahui kehidupan pribadi terapis yang memijatku.

Ternyata dia asalnya buruh pabrik dan baru sekitar setahun menjadi terapis di spa. Walaupun mungil dan cukup imut, ternyata dia sudah berkeluarga dan memiliki satu anak perempuan. Suaminya kerja di Jakarta dan hanya pulang sekali tiap seminggu atau dua minggu. Dari berbagai pengalaman kerjanya selepas SMA yang diceritakannya padaku, kusimpulkan usianya sekitar 23 tahun.

TKP, tempat Nina melayaniku

TKP, tempat Nina melayaniku

Setelah puas mendengar cerita tentang kehidupan pribadinya, aku menanyakan apakah dia bisa memberikan servis plus. Malu-malu ia mengiyakan. Dengan girang aku mengajaknya bersetubuh. Sayang, rupanya ia hanya mau memberikan HJ dan BJ. Biarpun sudah dibujuk dan dirayu, ia tetap bergeming dengan pendiriannya.

Ya sudah, kupikir daripada nggak sama sekali, yang penting aku ingin Nina mengeluarkan spermaku pagi itu.

Sebelum gadis itu melakukan tugasnya, aku bertanya padanya.

“Nggak apa-apa nih kalau Nina melakukan ini? Nggak apa-apa sama suaminya?”

“Nggak apa-apa..” jawabnya pelan sambil tersenyum.

“Syukurlah,” timpalku. Aku merasa senang kalau ia mantap melakukannya. Beginilah tipe wanita yang kusukai. Walaupun sudah bersuami tapi tidak jual mahal, tetap bersedia melayani dan memberikan kesenangan kepada pria lain.

Ia mulai mengulum dan mengisap alat vitalku sementara aku masih tiduran. Setelah beberapa lama, aku menyuruhnya berganti posisi. Mulanya aku berdiri sedangkan dia berlutut di depanku. Sebetulnya aku paling suka posisi tuan dan jongos seperti itu. Aku bisa berkacak pinggang dan memegangi kepalanya sementara dia bersimpuh di hadapanku berusaha membuatku orgasme dengan mulutnya.

Sayang Nina terlalu mungil dan mungkin aku terlalu tinggi baginya. Dengan posisi itu, ia jadi terlalu mendongak dan jadi cepat pegal. Akhirnya sebagai jalan tengah, aku duduk di tepi ranjang. Dengan posisi sekarang, Nina juga merasa lebih nyaman. Ia bisa menaikturunkan kepalanya untuk membuat alat vitalku menggelosor-gelosor di dalam mulutnya yang mungil. Rambutnya yang semula terikat rapi mulai acak-acakan.

Aku senang sekali melihat pemandangan indah itu. Sayangnya, Nina tidak terlalu mahir dalam BJ. Isapannya kurang kuat. Alhasil, lewat sepuluh menit aku belum juga berhasil mengeluarkan air maniku di dalam mulutnya. Padahal di awal kami sudah sepakat kalau Nina akan meminum air maniku.

Akhirnya dia menyarankan untuk HJ saja. Walaupun agak kecewa, kuiyakan saja usulnya. Aku ingin melakukannya sambil berdiri. Kami lalu mencari tempat yang agak luas di depan cermin. Ternyata genggaman dan kocokan Nina mantap juga. Jelas ia lebih mahir melakukan HJ daripada BJ. Sambil dikocok, aku memeluk erat tubuh Nina.

Semakin kuat kocokannya, semakin dekat aku pada orgasmeku, semakin erat juga pelukanku pada tubuh Nina. Posisi HJ seperti ini sangat kusukai karena aku bisa merasakan keintiman dengan terapisku. Kurasa pelukanku begitu eratnya sampai seolah aku akan meremukkan tubuh Nina yang mungil. Apalagi aku sambil membayangkan suaminya yang mungkin akan gigit jari kalau melihat isterinya melayaniku seperti itu.

Tak butuh waktu lama, aku memuncratkan air maniku yang kental ke atas lantai berubin seperti batu itu. Sambil terengah-engah menikmati orgasme, tetap kupeluk erat Nina seperti kekasihku sendiri. Aku benar-benar puas!

Kulihat rambut Nina benar-benar acak-acakan sekarang. Make up-nya belepotan karena sebagian mukanya tadi menempel di dadaku yang berkeringat dan berminyak. Aku benar-benar puas melihat hasil karyaku pada dirinya. Aku benar-benar puas karena berhasil ngerjain isteri orang.

Sambil istirahat, aku memperhatikan dia membersihkan air maniku yang berceceran di lantai. Setelah itu Nina membereskan bajunya dan rambutnya. Rupanya ia tak menyadari make up-nya yang berantakan. Karenanya sebelum ia meninggalkan ruangan, kuingatkan dirinya.

Aku berdiri di belakangnya, memperhatikan sambil tersenyum saat ia memoles kembali wajahnya di depan cermin. Setelah itu barulah aku pergi mandi dengan air hangat. Aku baru menyelesaikan mandiku saat Nina kembali masuk ke dalam ruangan membawakan sepoci green tea.

Sambil kuucapkan terima kasih, kucatat nomor HP-nya dan kukecup keningnya. Ia pun tersenyum ramah dan meninggalkan ruangan. Walaupun sederhana, aku benar-benar terkesan dengan pelayanan Nina, seorang isteri yang baik….

One response to “Nina, Isteri yang Baik

  1. mas,isi blog nya tentang ” ini ” mas aja?
    berarti mas tiap ari buang air mani yach?
    astaga naga….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s